Minggu, 24 Mei 2009

Perpustakaan Sekolah, Minim dan Memprihatinkan

Kompas, 15 November 2000

Kualitas dan kuantitas perpustakaan sekolah di Indonesia masih sangat minim dan dengan kondisi sangat memprihatinkan. Hanya dua persen dari sekitar 168.000 sekolah dasar (SD) di seluruh Indonesia yang memiliki perpustakaan yang memenuhi syarat keberadaan sebuah perpustakaan. Padahal, kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan literatur yang ada di perpustakaan.

Demikian dikatakan Deputi Pembinaan Perpustakaan Nasional RI Drs H Rachmat Natadjumena Dip Lib MA pada seminar sehari dengan tema "Optimalisasi Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Sekolah", Selasa (14/11), di Jakarta.

Hal senada juga dikemukakan Kepala Kantor Wilayah Depdiknas DKI Jakarta Alwi Nurdin yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut. "Perpustakaan adalah rohnya sebuah sekolah," kata Nurdin.

Natadjumena mengeritik kondisi umum perpustakaan sekolah saat ini kebanyakan hanya diisi buku-buku paket. Menurut Natadjumena, selain buku paket, perpustakaan sekolah seharusnya juga diisi buku-buku lain yang sesuai kebutuhan anak. Ia menyebutkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh perpustakaan sekolah. Di samping adanya buku-buku yang sesuai, yang perlu juga diperhatikan adalah ruangan, petugas yang profesional, serta meja dan kursi yang memadai. "Jangan baru ada satu lemari berisi buku sudah disebut perpustakaan sekolah," kata Natadjumena.

Baik Natadjumena maupun Nurdin berpendapat, kualitas perpustakaan sekolah sangat bergantung pada niat dan kreativitas kepala sekolah. Untuk mengisi perpustakaan sekolah, kata Nurdin, seorang kepala sekolah harus kreatif. Misalnya dengan mendekati penerbit yang kerap banyak menarik buku dari peredaran karena sudah lewat masa edarnya. "Kalau didekati, mereka mau ngasih," kata Nurdin.

Dalam acara tanya jawab, seorang peserta dari SLTP 109 Jakarta, Sunaryo, mengungkapkan permasalahan sekolahnya yang tidak mempunyai ruangan khusus untuk perpustakaan. Buku-buku yang ada adalah buku-buku paket yang telah rusak penjilidannya. Padahal, menurut Sunaryo, 1.527 siswa sekolahnya cukup memiliki minat baca.

RUU perpustakaan

Menanggapi kenyataan ini, Kepala Perpustakaan Nasional RI Hernandono menginformasikan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengajukan RUU tentang Pengelolaan Perpustakaan kepada pemerintah untuk dilanjutkan ke DPR. Diharapkan, pada 2001 RUU tersebut sudah bisa disahkan sehingga akan menjadi landasan hukum pengelolaan perpustakaan di Indonesia.

"RUU itu diperlukan dalam upaya mewujudkan pengelolaan perpustakaan lengkap, memadai, dan profesional baik milik pemerintah maupun swasta," kata Hernandono seusai berbicara dalam seminar tersebut.

Menurut Hernandono, RUU tersebut antara lain mengatur tentang kewajiban pemerintah (pusat dan daerah) agar menyisihkan anggaran guna memperluas pengadaan perpustakaan hingga tingkat desa/kelurahan, serta penyediaan anggaran memadai bagi pengadaan buku dan peralatan perpustakaan. Dengan demikian, upaya mewujudkan perpustakaan sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa di setiap desa, sekolah dan instansi diharapkan akan terpenuhi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar